Wikipedia

Hasil penelusuran

Jumat, 30 Juli 2021

BUDIDAYA IKAN LELE


          Bibit adalah salah satu faktor penentu kesuksesan budidaya ikan lele. Seringkali resiko kerugian dari pemeliharaan ikan lele tergantung pada kualitas bibit yang dipilih. Sekarang banyak sekali penjual bibit ikan lele. Mulai dari ikan lele lokal, lele dumbo, lele sangkuriang dan lele phyton. Namun, tidak semua bibit lele yang dijual memiliki kualitas yang bagus.
            

        Cara sederhana untuk memilih bibit ikan lele dapat dilihat dari pergerakan bibit ikan lele. Jika gerakan bibit ikan lele mutar-mutar saja, jangan dipilih. Sudah dipastikan bibit seperti itu kurang baik jika dipelihara. Apalagi jika kulitnya lecet, lebih baik jangan digunakan sebagai bibit dalam budidaya ikan lele. Ada 7 (tujuh) ciri yang wajib diketahui jika ingin memilih bibit lele yang baik yaitu: bibit lele berasal dari budidaya benih ikan lele, gerakannya lincah, fisik harus sempurna, ukuran bibit harus seragam, bibit dalam kondisi sehat, perhatikan riwayat induknya, pastikan memiliki sertifikat CPIB (Cara Pembenihan Ikan yang Baik).

         Selain pemilihan benih ikan lele yang baik, faktor yang menentukan pembudidaya lele mengalami kerugian atau keuntungan adalah tempat dan air yang digunakan pada saat pembudidayaan. Walaupun lele merupakan ikan yang memiliki daya tahan hidup yang tinggi, faktanya tidak berarti lele bias dibudidayakan secara optimal disembarangan tempat. Lokasi merupakan salah satu faktor utama yang harus diperhatikan dalam budidaya ikan lele. Melansir dari buku “99% Sukses Budidaya Lele” oleh Gunawan, Jakarta, Minggu (19/7/2020), pemilihan lokasi budidaya yang tidak tepat merupakan masalah serius dan penyebab awal berbagai kegagalan dalam budidaya lele.

      Air juga salah satu faktor penentuan pada budidaya ikan lele. Air yang digunakan pada pemeliharaan harus memenuhi kriteria layak hidup ikan. Tidak tercemar oleh limbah rumah tangga ataupun industry yang beracun seperti sabun, minyak, oli, ataupun limbah beracun lainnya. Air dengan kadar zat besi tinggi, terlalu asam, atau terlalu dingin kurang baik untul budidaya lele, terutama pada tahapan pembenihan. Air yang baik digunakan untuk budidaya lele adalah air sungai, air sumur bor, air kolam, air danau, atau mata air. Air hujan kurang baik digunakan karena selain asam juga terlalu dingin, cara mengatasinya yaitu dengan mengendapkan beberapa hari atau diberi pupuk kandang hingga berwarna hijau.

        Pemberian pakan merupakan salah satu faktor keberhasilan ternak lele. Proses pemberian pakan juga berpengaruh terhadap kualitas air, meratanya pertumbuhan ikan dan tingkat kematian. Beberapa hal berikut ini yang berkaitan dengan pemberian pakan ternak lele yang dipelihara. Pertama, pemberian pakan harus dilakukan secara teratur atau terjadwal, disesuaikan ukuran pelet dengan ukuran lele, basahi pelet hingga mengembang, perlu dilakukan pemberian probiotik dan pemberian makan secukupnya jangan sampai bersisa.

       Pemberian pakan ikan lele sebaiknya dilakukan secara teratur dengan menentukan kapan dan berapa kali dalam sehari waktu pemberian pakan. Minimal dua kali , misalnya dalam sehari dilakukan dua kali padi dan sore atau tiga kali yaitu pagi, siang dan malam. Pemberian pakan tiga kali sehari, waktunya pagi hari dapat dilakukan antara jam 8 hingga jam 9, siang antara jam 1 hingga jam 2 dan malam jam antara jam 20 hingga jam 21, dari pengalaman jika pemberian pakan dilakukan secara terlalu pagi, lele kurang nafsu makannya. 

        Pembudidayaan ikan lele pada umumnya dapat dipenen sesudah dibudidayakan selama empat bulan. Namun, ikan lele dapat dipanen dalam waktu budidaya selama dua bulan sehingga keuntungan yang didapatkan akan lebih cepat. Cepat ataupun lama pemanenan lele ditentukan dari tahapan awal budidaya.

        Dalam memperoleh hasil budidaya yang optimal maka sangat penting untuk memperhatikan berikut ini yaitu: pastikan bahwa kualitas air di dalam kolam sudah baik dan juga tidak mengandung bau yang tidak sedap. Cara untuk mensterilkan air kola, dengan cara mengisi air kedalam kolam hingga 80 cm lalu selanjutnya didiamkan selama dua minggu penuh, berikan pakan secara teratur dan merata agar pertumbuhan ikan optimal dan ukurannya seragam.


Wahyu Pradana

Jumat, 08 Maret 2019

Perpustakaan Unsyiah yang Kekinian

Perpustakaan unsyiah

   Pada tahun 2017, melalui jalur SNMPTN dan telah menyelesaikan segala persyaratan yang diperlukan untuk menjadi mahasiswi, sah, aku berhasil menjadi salah satu dari sekian ribu mahasiswa/i di Universitas Syiah Kuala, salah satu universitas favorit di tanah rencong ini. Sejujurnya, aku masih kecewa karena tidak lulus pada jurusan yang aku impikan, namun, aku percaya inilah yang terbaik. Pahit sebenarnya apa yang kuceritakan barusan, namun, itulah kenyataannya, aku rasa dari kalian juga ada yang merasakan seperti itu. Hmmm. Dan benar, setelah hampir dua tahun aku kuliah disini, aku berhasil move on dong, ciee. Ada banyak sekali hal yang membuat aku merasa betah sekaligus bangga kuliah di kampusku, salah satunya yang akan kuceritakan, perpustakaan.
    Apa yang kamu bayangkan jika mendengar kata perpustakaan ? Aku rasa kalian akan berpikir bahwa perpus itu, gudang buku, dipenuhi dengan aktivitas membaca, tenang alias tak ada keributan dan dilarang keras ngobrol apalagi sambil makan ataupun minum capcin (capucino cincau). Kalau kamu berpikir demikian, maka kamu perlu PDKT an dulu nih dengan Perpustakaan Unsyiah. Perpustakaan Unsyiah jauh dari apa yang biasa orang bayangkan, layaknya perpus biasa. Oh tidak dong... Melainkan, more than just a library ! Lebih dari apa yang kita harapkan untuk menjadi perpus yang disenangi semua orang. Penasaran ? Apa saja kelebihan dari perpus yang memiliki berbagai keunggulan ini ? Disini aku akan sedikit menceritakan pengalamanku yang mencoba berkenalan lebih jauh lagi dengan perpustakaan yang katanya kekinian banget.

 Ketika kuliah, hari-hariku dipenuhi oleh berbagai tugas dan laporan yang mengharuskan ku untuk membaca lebih banyak buku-buku dari sebelumnya. By the way, aku kurang hobby membaca sih, kecuali ya, baca SMS yang secara tiba-tiba masuk dan menyatakan bahwa aku menang salah satu undian berhadiah ataupun kiriman pulsa yang salah alamat, hmm tidak semudah itu reader... Tapi, aku pernah bermimpi, ketika aku masih duduk di bangku SMA atau yang terkenal dengan masa putih abu-abu nan dipenuhi dengan kisah cintanya anak remaja yang masih suka update status di fb sambil cengar-cengir sendiri, bahwa kelak aku akan memiliki sebuah toko buku yang isi dari toko buku tersebut merupakan hasil karya ku sendiri. Aku tidak suka membaca, tapi, aku suka menulis, dan aku suka membaca tulisanku. Jadi, apakah aku suka membaca ? wallahualam... Abaikanlah, itu tidak penting -_-

 Karena tuntutan tugas dan paksaan dari dalam diri, akhirnya aku melangkahkan kaki ku ke Perpustakaan Universitas Syiah Kuala. Bukan untuk pertama kalinya, karena ketika masa pendaftaran ulang kampus, salah satu syaratnya yaitu mengikuti LOCT atau Library Orientation Class and Tour. LOCT itu seperti pengenalan perpustakaan dan kita di ajak berkeliling perpustakaan. Dan yang aku rasakan kala itu sih biasa aja, tidak terkejut dan terheran-heran, ditambah lagi aku duduk di kursi paling belakang dan masih ada sedikit rasa kekecewaan dan kekesalan yang menyelimutiku karena aku harus melupakan jurusan yang sangat aku impikan itu. Saat itu, menurutku pribadi karena cukup ramai juga jadi agak kurang efektif acaranya, alhasil karena aku tidak mendengarkan dengan begitu detail dan terlalu asik berkenalan dengan teman-teman baru, aku jadi tidak terlalu paham, dan yang paling aku ingat waktu itu, kelebihan dari Perpustakaan Unsyiah ini, kita bisa membawa cemilan atau minuman kedalamnya, nah aman nih buat yang hobi baca buku sambil ngemil. Hal ini lah yang membuat kesan pertama ku pada perpustakaan kampus ku ini, berbeda dari perpustakaan lain yang sebelumnya pernah ku datangi. Nah, untuk kedua kalinya aku ke perpustakaan, kebosanan, itulah yang akan aku alami selama aku mengerjakan tugas ku diperpus nanti, begitulah pikiranku terus berjalan. Penuh aturan, dilarang berisik, tidak boleh pecicilan, penjaganya yang killer, aroma buku yang menyengat, dipenuhi dengan para kutu buku dikanan kiri ku, meskipun boleh membawa cemilan dan minuman, itu akan sangat tidak nyaman jika dilakukan ditempat yang penuh dengan sensasi ketegangan ini dan segala hal yang menyebalkan lainnya yang membuat aku selalu ber suudzon dengan perpustakaan kampusku ini. Huft.

pengunjung yang sedang melakukan check in

    Ku buang jauh-jauh pikiranku itu demi tugasku, dan setelah check in dengan menunjukkan KTM bukan ATM ya, aku berhasil masuk ke dalam ruangan yang dipenuhi dengan orang-orang yang sedang sibuk membaca buku dan memainkan laptopnya. Karena sebelumnya aku belum pernah datang untuk membaca ataupun meminjam buku kesini, jadi aku agak sedikit kesulitan untuk mencari buku yang aku butuhkan. Nah, kebetulan disini aku ingat, perpustakaan unsyiah ini memiliki aplikasi yang dapat didownload secara gratis di handphone agar mempermudahkan kita untuk berhubungan dengan perpustakaan ini, seperti mencari buku atau melihat riwayat peminjaman buku kita. Setelah aku merasa lega karena terbantu dengan aplikasi yang bernama UILIS ini, kemudian, aku pun mengerjakan tugasku. Buat manteman yang belom download aplikasinya, monggo, silahkan segera didownload.
ruang baca 

    Ketika aku mengerjakan tugas, jujur aku tidak fokus pada tugasku, melainkan, pada salah satu sudut dimana sebuah ruangan yang didalamnya terdapat para pengunjung sedang tiduran dan duduk-duduk santai sambil memainkan handphonenya, mungkin sedang stalking mantan gebetan. Karena ketika pengenalan perpustakaan aku acuh tak acuh, jadi, aku tidak begitu kenal dengan perpustakaan ini, akhirnya aku pun melakukan taaruf dengan perpustakaan unsyiah ini dengan dipenuhi rasa penasaran. Dengan berjalan kaki menaiki anak tangga karena perpustakaan ku ini tidak dilengkapi dengan tangga eskalator, aku menuju ke lantai tiga. Lantai paling atas dan pandanganku langsung tertuju pada tulisan ‘Korea Corner’ aku cukup tertarik dengan negeri ginseng yang dihuni oleh banyak boyband dan girlband papan atas. Sudut ini dipenuhi dengan budaya korea, buku-buku korea, segala hal yang berbau dengan korea, bahkan, kita juga bisa memakai pakaian khas negaranya oppa jungkook itu lhoo... disini aku merasa, waw, ini baru perpus. Itulah yang ku katakan setelah keluar dari korea corner. Buat pecinta bollywood tidak perlu kecewa, karena, ada India Corner juga loh. Keren kan ? bisa lihat sudut mengenai korea dan india tanpa harus menghabiskan banyak biaya, I’ve never seen anything like it before. Itulah yang membuat aku begitu mencintai lantai tiga perpustakaan unsyiah ini, diluar pikiran banget, secara perpus gitu lho, mana mungkin kan menyediakan sudut-sudut khusus untuk diisi dengan kebudayaan dari negara-negara favorit nya para remaja. Kali ini aku turun ke lantai dua masih dengan menggunakan anak tangga, ternyata, ada mushola kecil khusus perempuan dan tempat lesehan untuk beristirahat, tidak hanya itu, ada juga ruangan yang disediakan untuk berdiskusi, So, bisa dibilang perpustakaan unsyiah ini jauh dari kata ‘kebosanan’ , jika kita lelah kita bisa beristirahat sejenak. Apalagi dengan panasnya kota banda aceh, sehingga perpus merupakan tempat pelarian yang cocok buat ngadem. Hehe

lantai dua perpus

    Ada lagi keunggulan dari perpustakaan yang menjadi daya tarik tersendiri, yaitu kantin dan warkop mini. Kebayang gak sih sebelumnya ? perpustakaan ada kantin dan warkop ? kalo aku pribadi, Perpustakaan Unsyiah merupakan perpustakaan pertama yang ku ketahui ada kantin nya. bahkan, setiap minggunya, ada acara Relax and Easy, yang merupakan salah satu acara yang dapat menunjukkan bakat kita, baik itu dalam bidang tarik suara, membaca puisi, maupun bakat-bakat lainnya.
kantin

warkop mini yang sedang tutup

    Tak hanya relax and easy, perpustakaan unsyiah juga memiliki salah satu event yang diadakan setiap tahunnya, yaitu Unsyiah Library Fiesta atau ULF. Dalam acara ini ada banyak sekali kegiatan yang dilakukan, seperti lomba membaca puisi, akustik, debat bahasa indonesia, blog competition dan masih banyak lagi. Selain lomba-lomba, ULF juga mengadakan pemilihan duta baca unsyiah. Eits, tapi bukan sembarang pemilihan loh, melainkan melalui seleksi ketat dan tahap-tahap lainnya. Oh iya, perpustakaan yang telah berdiri sejak tahun 1970 ini juga telah mendapatkan sertifikasi internasional loh dalam bidang Keamanan Informasi Sistem Perpustakaan dengan aplikasi OPAC, OER, dan Room Booking, yang telah disahkan oleh Badan Akreditasi Nasional Jerman. Karena perpustakaan unsyiah ini memiliki kualitas yang sangat keren dan tak heran jika perpus yang satu ini menjadi tongkrongannya para penimpa ilmu.




Well. Gimana ? asik banget kan Perpustakaan Unsyiah, beda dari perpustakaan pada umumnya, kamu tidak hanya bisa membaca disini. Tidak harus membaca dulu baru bisa ke perpus, tapi kamu bisa menjadikan perpus sebagai tempat nongkrong yang produktif dan menghabiskan waktu dengan suasana yang berbeda. Oh iya, buat kamu yang bukan mahasiswa unsyiah juga bisa kok berkunjung ke dalam perpus yang kekinian ini, caranya gampang aja, dengan memperlihatkan tanda pengenal berupa Kartu Tanda Penduduk (KTP) atau Kartu Tanda Mahasiswa (KTM)dari kampus kalian serta dengan membayar Rp.5.000 kamu sudah bisa menikmati fasilitas perpustakaan unsyiah seharian.


teman yang setia menemaniku ke perpus, hehe